Rabu, 02 Februari 2011

Kekurangan Kalori Protein (KKP)

BAB II

Kekurangan Kalori Protein (KKP)

2.1 Kekurangan Kalori Protein (KKP)

Manusia membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Selain untuk bertahan hidup, makanan juga berfungsi memenuhi kebutuhan-kebutuhan tubuh akan zat-zat seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan zat-zat lain. Namun, di zaman yang sudah modern ini justru banyak orang yang tidak dapat memenuhi zat-zat tersebut.

Pada kali ini akan membahas secara khusus mengenai kekurangan kalori protein. Protein yang berasal dari kata protos atau proteos yang berarti pertama atau utama. Protein berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh. Kita memperoleh protein dari makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Jika kita tidak mendapat asupan protein yang cukup dari makanan tersebut, maka kita akan mengalami kondisi malnutrisi energi protein.

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja, dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.

Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak. Secara umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP, yaitu penyakit yag diakibatkan kekurangan energi dan protein. KKP dapat juga diartikan sebagai keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Bergantung pada derajat kekurangan energy protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda. Penyakit KKP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.

Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relative tidak jelas, hanya terlihatbahwa berat badananak tersebut lebih rendah disbanding anak seusianya. Kira-kira berat badannya hanya sekitar 60% sampai 80% dari berat badan ideal.

2.2 Faktor Penyebab

Secara umum, masalah KKP disebabkan oleh beberapa factor, yang paling dominan adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena bagaimana pun KKP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.

Berikut beberapa faktor penyebabnya :

1. Faktor sosial. Yang dimaksud faktor sosial adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makana bergizi bagi pertumbuhan anak, sehingga banyak balita tidak mendapatkan makanan yang bergizi seimbang hanya diberi makan seadanya atau asal kenyang. Selain itu, hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan berlangsung turun-temurun dapat menjad hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor.

2. Kemiskinan. Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyababkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun sering kali tidak biasa terpenuhi apalagi tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.

3. Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersedian bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit KKP.

4. Infeksi. Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada gilirannya akan mempermudah masuknya beragam penyakit. Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila faktor-faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya, ketersediaan pangan yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan pangan, dan pentingnya sosialisasi makanan bergizi bagi balita serta faktor infeksi dan penyakit lain.

5. Pola makan. Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein atau asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan ibunya. Namun, bayi yang tidak memperoleh ASI protein dari suber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu, dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadinya kwashiorkor terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.

6. Tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu mempengaruhi pola pengasuhan balita. Para ibu kurang mengerti makanan apa saja yang seharusnya menjadi asupan untuk anak-anak mereka.

7. Kurangnya pelayanan kesehatan, terutama imunisasi. Imunisasi yang merupakan bagian dari system imun mempengaruhi tingkat kesehatan bayi dan anak-anak.

2.3 Klasifikasi Kekurangan Kalori Protein (KKP)

KKP dibagi menjadi dua jenis, yaitu kwashiorkor dan marasmus. Berikut adalah penjelasannya.

1. Kwashiorkor. Istilah kwashiorkor pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Cecily Williams pada tahun 1933 ketika ia menemukan keadaan ini di Ghana, Afrika. Dalam bahasa Ghana, kwashiorkor artinya penyakit yang diperoleh anak pertama, bila anak kedua sedang ditunggu kelahirannya. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake yang berlangsung kronis.

2. Marasmus. Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti wasting atau merusak. Merupakan bentuk malnutrisi kalori protein akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak dibawah kulit dan otot (Dorland, 1998:649). Marasmus juga diartikan sebagai malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau hygiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu atau lebih tanda defesiansi protein dan kalori (Nelson, 1999:212).

2.4 Manifestasi Klinis

Beberapa gejala penyakit kwashiorkor adalah :

1. Banyak menangis

2. Bahkan pada stadium lanjut anak terlihat sangat pasif

3. Penderita nampak lemah dan ingin selalu terbaring

4. Diare dengan fase cair yang banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi laktase dan enzim penting lainnya

5. Kelainan kulit yang khas, dimulai dengan titik merah menyerupai petechia (pendarahan kecil yang timbul sebagai titik berwarna merah keunguan pada kulit maupun selaput lendir, Red), yang lama kelamaan kemudian menghitam. Setelah mengelupas, terlihat kemerahan dengan batas menghitam. Kelainan ini buasanya dijumpai di kulit sekitar punggung, pantat, dan sebagainya

6. Pembesaran hati, bahkan saat rebahan penbesaran ini diraba dari luar tubuh terasa licin dan kenyal

7. Gangguan fungsi ginjal dan anemia

8. Gagal untuk manambah berat badan

9. Pertumbuhan linear terhenti

10. Perubahan warna rambut menjadi kemerahan dan mudah dicabut

11. Penurunan massa otot

12. Perubahan mental seperti lethargia, irotabilitas, dan apatis dapat terjadi

13. Pada keadaan berat atau akhir (final stagaes) dapat mengakibatkan shock, koma, dan berakhir dengan kematian

14. Pada hasil pemeriksaan laboratorium terdapat hipoproteinemia, terutama pada albumin sehingga terjadi edema

Sedangkan gejala dari marasmus adalah

1. anak kurus hingga terlihat tulang berbungkus kulit

2. wajah seperti orangtua

3. perut cekung

4. kulit keriput, jaringan lemak subkuits sangat sedikit sampai tidak ada (pada daerah bokong tampak seperti memakai celana longgar)

5. cengeng dan rewel

6. iga gambang

7. diare kronik

8. sering disertai penyakit inspeksi (umumnya kronis berulang)

2.5 Akibat Kekurangan Kalori Protein

Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah. Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan kwashiorkor pada anak-anak di bawah lima tahun. Akibat dari kwashiorkor dan marasmus sendiri, yaitu:

1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan

2. Mudah terkena penyakit

3. Berkurangnya daya pikir

4. Penurunan fungsi otak

5. Ketidakseimbangan cairan elektrolit

6. Berkurangnya daya tahan tubuh

7. Bila tidak segera diobati berakhir dengan kematian

2.6 Cara Menanggulangi KKP

KKP merupakan salah satu masalah serius yang sedang dihadapi Indonesia. Kita dapat berusaha agar KKP dapat dikuragi. Berikut adalah cara-cara pencegahannya :

1. Tingkat keluarga

a) Ibu membawa balita ke posyandu untuk ditimbang

b) Memberi ASI pada usia sampai enam bulan

c) Memberi maknan pendukung ASI yang mengandung berbagai gizi (kalori, vitamin, mineral)

d) Memberitahukan petugas kesehatan bila balita mengalami sakit

e) Menhindari pemberian makanan buatan kepada anak-anak untuk menggantikan ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI

f) Melindungi anak dari kemungkinan menderita diare dan dehidrasi dengan cara memelihara kebersihan, menggunakan air masak untuk minum, mencuci alat pembuat susu dan makanan bayi serta penyediaan oralit

g) Mengatur jarak kehamilan ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur makanan yang bergizi untuk buah hati mereka

2. Tingkat posyandu

a) Kader melakukan penimbangan pada balita setiap bulan di posyandu

b) Kader memberikan penyuluhan tentang makanan pendukung ASI (MP-ASI)

c) Kader memberikan pemulihan bayi balita yang berada di garis merah (PMT) contoh : KMS

d) Pemberian imunisasi untuk melindungi anak dari penyakit infeksi seperti TBC, polio dan ada pula beberapa imunisasi dasar, antara lain :

1) BCG

2) DPT

3) Polio

4) Hepatitis B3

5) Campak

Tambahan :

1) HiB (meningitis)

2) PCV / IPD (pnemokokus)

3) MMR

4) Influenza

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar