BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA
Benigna Hipertropi Prostat adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter (Arifyanto D,2008).
Hiperplasia
Prostat Benigna (BPH) adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria
lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria
di atas usia 60 tahun (Brunner & Suddarth, 1999).
BPH adalah
pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang menyebabkan berbagai derajat
obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Doenges, 2000).
Dahulu
disebut juga sebagai hipertrofi prostat jinak (Benign Prostat Hipertropy =
BPH), istilah hipertrofi karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar
periuretral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke periper dan menjadi
simpai bedah (Mansjoer, Arief, 2000).
Penyebab
Hingga sekarang penyebab dari BPH
belum diketahui dengan pasti.
Faktor
Risiko
Faktor resiko yang dominan untuk
terjadinya BPH adalah bertambahnya usia pada pria dan adanya androgen (hormon
testosteron).
Gejala
dan Tanda
Terdapat dua gejala utama dari BPH
yaitu gejala obstruktif dan iritatif. Gejala obstruktif antara lain adalah :
harus mengedan saat kencing, menurunnya pancaran urin, aliran urin yang
terputus-putus atau menetes, perasaan tidak lampias setelah kencing, dan harus
menunggu lama saat mulai kencing.
Sedangkan gejala iritatif antara lain adalah sering kencing, tergesa-gesa kalau ingin kencing, sering terbangun di malam hari untuk kencing, dan kencing sulit ditahan. Bila gejala ini dibiarkan berlarut larut dan semakin berat, dapat mengakibatkan komplikasi yang lain.
Sedangkan gejala iritatif antara lain adalah sering kencing, tergesa-gesa kalau ingin kencing, sering terbangun di malam hari untuk kencing, dan kencing sulit ditahan. Bila gejala ini dibiarkan berlarut larut dan semakin berat, dapat mengakibatkan komplikasi yang lain.
Pengkajian
Riwayat Keperawatan
· Suspect BPH ® umur > 60 tahun
· Pola urinari : frekuensi,
nocturia, disuria.
· Gejala obstruksi leher
buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal
dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala
pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.
· BPH ® hematuri
1. Pemeriksaan Fisik
· Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi,
edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang
lama.
· Distensi kandung kemih
·
Inspeksi :
Penonjolan pada daerah supra pubik ® retensi urine
·
Palpasi :
Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air
kecil ® retensi urine
·
Perkusi :
Redup ® residual urine
· Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya
penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
· Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur) ® posisi
knee chest
Syarat
: buli-buli kosong/dikosongkan, tujuan:
·
Menentukan
konsistensi prostat
·
Menentukan
besar prostat
2. Pemeriksaan Radiologi
Pada
Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk:
a. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
b. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume
residual urine
c. Mencari ada
tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat Hyperplasia atau
tidak
Beberapa Pemeriksaan Radiologi
a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran
trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli.
Indikasi
: disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis
Tanda
BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter
b. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada
renal
c. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi :
untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra.
d. USG : Untuk menentukan volume urine, volume
residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas
3. Pemeriksaan Endoskopi.
4. Pemeriksaan Laborat
· Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT,
LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur)
Jika
infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah
atau PUS.
· RFT ® evaluasi fungsi renal
· Serum Acid Phosphatase ® Prostat Malignancy
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan &
Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Doenges, et al. (2000). Rencana
Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna
Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press.
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar